Langsung ke konten utama

07. (Mungkin) Deva dan Asih

Aku menemaninya menyusuri ladang itu dengan berjalan kaki. Dia yang seolah belum pernah melihat tanah hijau makin bersemangat saat sudah menginjak rumput. Beberapa orang ada di ladang termasuk salah seorang nenek tua yang jadi target penasarannya. 
 
"Nek, ini tanaman apa?" 
"Oh, ini almaty dan glycerol." 
"Hmm, tulisannya kayak gini, ya?" katanya sambil menyodorkan buku tulis yang ditulis rapi dengan tinta hitam.
"Eh, anu, hehe, nenek ga bisa baca. Tau namanya karena dari sananya dibilang gitu, jadi ga tau gimana cara nulisnya." 

Sejenak dia terdiam. Ada banyak jenis tanaman di ladang, yang mungkin saja belum didata sama seperti dua tanaman yang disebut nenek tersebut. 

Tanaman langka, yang belum pernah didata dan diketahui, hanya diwariskan oleh mulut ke mulut dari generasi ke generasi. Sayang, tidak tercatat karena kurangnya teknologi pencatatan dan buta huruf.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

06. Deva dan Asih

Pekarangan Deva terlihat luas kalau dari sini. Asih memandang dengan takjub. Pekarangan itu ditanami beberapa buah dan sayur yang kalau dihitung cukup untuk memenuhi kebutuhan harian keluarga Deva. Sang pria mulai menyirami tanaman itu, sedangkan sang wanita memandang dengan kagum sambil melihat sekeliling. Mata Asih lalu berhenti ke anjing tetangga yang lewat. Tanpa melepaskan pandangan, Asih pun berjalan menujunya. "Jangan sentuh!" "Lho, kenapa? Kok ga boleh?" "Nanti digigit anjing." "Ish, anjing itu ga menggigit, tau," Asih membela diri. Deva hanya tersenyum dan lanjut melakukan pekerjaannya. "Aww, sakit." "Kan," singkat, padat, dan jelas respons yang diberikan Deva. Tanpa panik, dia langsung mendekat dan membantu Asih berdiri dengan stabil. Dia menuntun Asih ke sepeda motornya dan membawanya ke puskesmas. Luka gigitan anjing memang harus segera diobati agar terhindar dari rabies. Jangan tanya anjingnya ke mana, karena seme...

03. Orang Jepang itu Cringe

Ketika saya menjelajahi Twitter kemarin, ada satu pertanyaan unik yang muncul dari salah seorang netizen. Pertanyaannya begini, “kenapa, ya, akting aktor atau aktris Jepang di film Jepang itu lebay banget?” Sejenak setelah membacanya, saya jadi kepikiran, “benar juga, ya.” Para penggemar film atau dorama dari Jepang tentu sudah tidak asing dengan gaya akting yang dimiliki aktor dan aktris Jepang. Ekspresi yang lebay dan terkadang cringe memang menjadi ciri khasnya. Apalagi jika film tersebut merupakan adaptasi dari komik atau anime. Bagi yang menonton pertama kali, pasti dibuat kebingungan dan merasa akting mereka jelek. Tapi, kenapa, ya, mereka bisa begitu? Kalau untuk jawaban praktis, bisa saja kita menjawab, “memang dari sananya begitu” tapi itu tentu tidak memuaskan. Namun, bukan berarti itu jawaban yang salah, karena memang dari sananya ya begitu HAHAHA. Oke, serius. Menurut saya, ini berkaitan dengan kebijakan sakoku yang dipakai di Zaman Edo. Loh, kok bisa? Jadi gini ceritanya....

01. Halo

Halo, warga dunia maya! Selamat datang di blog saya. Sebenarnya, blog ini sudah ada sejak tahun 2012, terasingkan dan terlupakan begitu saja, kalah dengan urusan lainnya yang mesti saya kerjakan. Tapi, entah kenapa, saya mulai menulis lagi. Pemicunya mungkin banyak, mungkin karena saya melihat teman saya sudah punya portofolio dan saya belum, mungkin karena pacar saya (iya, saya sudah punya pasangan) sudah punya pekerjaan sendiri walau masih magang, sehingga membuat dia sibuk, atau mungkin karena waktu yang seharusnya saya gunakan untuk menulis TA (tugas akhir) malah dipakai untuk menulis di blog ini. Apa pun itu, saya senang akhirnya bisa menulis kembali. Dalam perjalanan menulis blog ini, saya beritahukan bahwa saya tidak mempunyai pronoun tetap untuk diri sendiri. Terkadang saya bakal menulis ‘saya’, atau mungkin ‘aku’, atau ketika suasana tidak terlalu serius mungkin saya akan memakai ‘gue’. Jadi mohon maklum atas ketidakkonsistenan saya nantinya, dan mohon maaf kalau menggan...