Langsung ke konten utama

08. Cengkareng, 29 Desember

Cengkareng, pukul 22.30 WIB. 

Tiga hari sebelum tahun baru. 


Rasa lapar menerjang sesaat setelah ia menyelesaikan gim di gawainya tersebut. Pesan dari orang tuanya ketika baru tiba di bandara langsung teringat olehnya. Batagor yang ia beli di stasiun tadi masih belum cukup untuk mengganjal perutnya yang belum makan dari tadi siang. 


Ia lupa -atau pura-pura lupa- bahwa harga makanan di bandara bisa berkali-kali lipat harganya dibandingkan di tempat lain. Deretan manusia yang duduk di bangku ruang tunggu bandara, sesekali ada yang tidur, adalah pemandangan yang ia lihat saat mencari tempat makan. 


Tidak perlu jauh memandang, tepat di belakang bangku tempat ia duduk, warung sepi yang menonjolkan menu makanan Indonesia terlihat jelas saat ia memutarkan kepalanya. Butuh sedikit waktu untuk meyakinkan ia untuk makan di situ. Terakhir kali ia makan di bandara adalah di restoran cepat saji, bukan di warung bergaya prasmanan. Ia ragu mengenai harganya, walaupun sebenarnya itu adalah hal yang sia-sia. 


Namun perut mengalahkan akal, koper dan tasnya sudah ditaruh di samping meja. Sempat terbersit di pikirannya untuk tidak jadi makan, tapi terasa aneh ketika tangannya sudah memilih lauk yang ia inginkan. Dan, satu piring nasi lengkap dengan lauk sudah tersedia di meja. 


Rp 44.000

Nasi, potongan telur dadar, mie goreng Jawa, dan seporsi sayur capcay.

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

06. Deva dan Asih

Pekarangan Deva terlihat luas kalau dari sini. Asih memandang dengan takjub. Pekarangan itu ditanami beberapa buah dan sayur yang kalau dihitung cukup untuk memenuhi kebutuhan harian keluarga Deva. Sang pria mulai menyirami tanaman itu, sedangkan sang wanita memandang dengan kagum sambil melihat sekeliling. Mata Asih lalu berhenti ke anjing tetangga yang lewat. Tanpa melepaskan pandangan, Asih pun berjalan menujunya. "Jangan sentuh!" "Lho, kenapa? Kok ga boleh?" "Nanti digigit anjing." "Ish, anjing itu ga menggigit, tau," Asih membela diri. Deva hanya tersenyum dan lanjut melakukan pekerjaannya. "Aww, sakit." "Kan," singkat, padat, dan jelas respons yang diberikan Deva. Tanpa panik, dia langsung mendekat dan membantu Asih berdiri dengan stabil. Dia menuntun Asih ke sepeda motornya dan membawanya ke puskesmas. Luka gigitan anjing memang harus segera diobati agar terhindar dari rabies. Jangan tanya anjingnya ke mana, karena seme...

03. Orang Jepang itu Cringe

Ketika saya menjelajahi Twitter kemarin, ada satu pertanyaan unik yang muncul dari salah seorang netizen. Pertanyaannya begini, “kenapa, ya, akting aktor atau aktris Jepang di film Jepang itu lebay banget?” Sejenak setelah membacanya, saya jadi kepikiran, “benar juga, ya.” Para penggemar film atau dorama dari Jepang tentu sudah tidak asing dengan gaya akting yang dimiliki aktor dan aktris Jepang. Ekspresi yang lebay dan terkadang cringe memang menjadi ciri khasnya. Apalagi jika film tersebut merupakan adaptasi dari komik atau anime. Bagi yang menonton pertama kali, pasti dibuat kebingungan dan merasa akting mereka jelek. Tapi, kenapa, ya, mereka bisa begitu? Kalau untuk jawaban praktis, bisa saja kita menjawab, “memang dari sananya begitu” tapi itu tentu tidak memuaskan. Namun, bukan berarti itu jawaban yang salah, karena memang dari sananya ya begitu HAHAHA. Oke, serius. Menurut saya, ini berkaitan dengan kebijakan sakoku yang dipakai di Zaman Edo. Loh, kok bisa? Jadi gini ceritanya....

01. Halo

Halo, warga dunia maya! Selamat datang di blog saya. Sebenarnya, blog ini sudah ada sejak tahun 2012, terasingkan dan terlupakan begitu saja, kalah dengan urusan lainnya yang mesti saya kerjakan. Tapi, entah kenapa, saya mulai menulis lagi. Pemicunya mungkin banyak, mungkin karena saya melihat teman saya sudah punya portofolio dan saya belum, mungkin karena pacar saya (iya, saya sudah punya pasangan) sudah punya pekerjaan sendiri walau masih magang, sehingga membuat dia sibuk, atau mungkin karena waktu yang seharusnya saya gunakan untuk menulis TA (tugas akhir) malah dipakai untuk menulis di blog ini. Apa pun itu, saya senang akhirnya bisa menulis kembali. Dalam perjalanan menulis blog ini, saya beritahukan bahwa saya tidak mempunyai pronoun tetap untuk diri sendiri. Terkadang saya bakal menulis ‘saya’, atau mungkin ‘aku’, atau ketika suasana tidak terlalu serius mungkin saya akan memakai ‘gue’. Jadi mohon maklum atas ketidakkonsistenan saya nantinya, dan mohon maaf kalau menggan...